Memilih Pemimpin Secara Pentakostal – Berdoa Sesuai Dengan Hati Tuhan

Indonesia sedang berada dalam masa seperti seorang ibu yang sedang sakit bersalin, kira-kira sembilan bulan kedepan saat renungan ini ditulis, Indonesia akan melahirkan seorang pemimpin nasional yang baru serta ratusan pemimpin lokal yang akan mengelola pemerintahan di tingkat propinsi, kabupaten dan kota.

Sejalan dengan itu, pada tahun ini juga sejak Januari sampai dengan menjelang bulan Agustus yang akan datang, Gereja Bethel Indonesia yang merupakan sinode yang menaungi keluarga besar GBI Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta tengah berproses melalui Sidang Majelis Daerah Umum 2023 di tiap Badan Pengurus Daerah (BPD) dan Badan Pengurus Luar Negeri (BPLN) untuk menghasilkan para pemimpin baru yang akan memimpin sebagai Ketua BPD serta Ketua Badan Pengurus Pusat periode 2023-2027.

Seorang pemimpin membawa pengaruh yang sangat besar bagi kemajuan atau kemunduran dari yang dipimpinnya, ini merupakan posisi yang sangat vital, dan adalah sebuah kesalahan yang fatal jika kita salah dalam memilih seorang pemimpin. Sekalipun bisa jadi orang yang kita pilih ternyata ‘berbelok’ di tengah jalan dalam artian berubah setia dan berubah komitmen sebagaimana yang terjadi pada Saul. Pada awalnya Saul adalah kader yang terbaik yang dimiliki oleh Israel dari sisi penampilan, perawakan dan anak seorang yang berada.

“Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kish bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku Benyamin, seorang yang berada. Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.” (1 Samuel 9:1-2)

Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 13:22 menyatakan: “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” Ayat ini dengan tegas dan jelas memberikan kepada kita sebuah janji dan penguatan bahwa dalam setiap proses peralihan kepemimpinan, TUHAN telah mendapati di hati-Nya seorang pemimpin yang berkenan kepada-Nya, yang akan melaksanakan segala kehendak-Nya. Haleluya!

Jika demikian bagaimana kita merepons dan mengimplikasikan kebenaran Firman Tuhan ini dalam kehidupan kita?

1. Minta kepada TUHAN agar kita dapat mengenal isi hati-Nya, sehingga kita bisa berdoa dan meminta pemimpin yang sudah TUHAN tempatkan di hati-Nya.

2. Sadari bahwa pada akhirnya apa yang kita rencanakan atau pikirkan tentang kepemimpinan kedepan harus takluk kepada rancangan dan jalan TUHAN.
Yesaya 55:8-9
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”

3. Jangan terjebak dengan cara-cara yang mengandalkan kekuatan manusia untuk ‘memaksakan’ menempatkan seseorang duduk dalam posisi kepemimpinan dengan menghalalkan segala cara dan tidak memperhatikan kehendak dan rancangan TUHAN.

Amsal 19:21
“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.”

Posisi kepemimpinan sudah umum dimaknai sebagai posisi politis yang diperoleh dengan cara-cara politis. Namun, sebagai seorang insan pentakosta kita harus menyadari bahwa kepemimpinan ditetapkan oleh Allah (Roma 13:1). Jadi kita harus melakukannya dengan Spirit driven bukan political driven, didorong dan dikendalikan oleh Roh Kudus, bukan cara-cara politis. Amin (DL).

source: hmministry.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *