“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” 1 Korintus 5:7

Pada bulan April ini kita akan merayakan hari raya Paskah. Hari Raya Paskah ini selalu diikuti dan menjadi satu kesatuan dengan hari raya Roti Tak Beragi.

“Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya. Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel.” Keluaran 12:14-15

Pada petang hari, pada hari ke-empat belas bulan Abib (Nisan), setelah pengorbanan anak domba Paskah, Allah memerintahkan orang-orang Yahudi untuk memakan roti yang tidak beragi. Allah memerintahkan agar semua orang Yahudi yang memakan roti dengan ada ragi nya pada masa-masa perayaan itu harus lah dilenyapkan dari tengah-tengah bangsa Israel. Mengapa? Karena di dalam Alkitab, ragi adalah lambang dari dosa. (Dalam kehidupan sehari-hari ragi dipakai untuk membuat suatu adonan roti mengembang). Ragi melambangkan kesombongan atau kecongkakan yang membuat manusia merasa bahwa mereka tidak memerlukan Allah. Alkitab berkata bahwa Allah menentang orang yang congkak (Yakobus 4:6).

“Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” 1 Korintus 5:6-8.

Pada masa-masa hari raya Paskah ini, Tuhan mau agar kita merenungkan karya kasih/penebusan-Nya (Because He first loved us), dan membuang kesombongan kita. Kita perlu menyadari bahwa kita bisa ada sampai hari ini, semua itu karena DARAH-NYA. Tanpa penebusan-Nya, status kita adalah orang berdosa.

Oleh karena itu marilah kita meresponi hal ini dengan banyak bertobat dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Sadari kita ini tidak ada apa-apanya. Semua hanya karena kasih-Nya. Dengan demikian kita akan menjadi penyembah-penyembah yang memiliki sikap hati rendah hati (humility). Dan sebagai akibat dari penyembahan yang demikian, kita akan melihat tuaian jiwa-jiwa yang terbesar dan terakhir terjadi di dalam nama Yesus.

Haleluya
Tuhan Yesus Memberkati (HW).

source: hmministry.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *