Anak Muda Yang Berani Memberi

Kisah Para Rasul 20:35, "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

Bicara soal memberi, memang tidak terbatas pada pemberian materi saja, usaha, perhatian, waktu dan tenaga juga adalah bagian dari sebuah pemberian. Bagaimana seharusnya anak muda menyikapi Firman
Tuhan untuk mau memberi?

Bicara soal anak muda, memang ada yang keadan di lapangan yang masih memiliki uang jajan pas-pas an, orangtuanya tidak berasal dari keluarga kaya raya, yang orangtuanya tidak bekerja atau bahkan sudah tidak ada, sehingga untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya pun masih mengalami kesulitan. Ada pula yang dari lahir sudah hidup berkecukupan, yang dilahirkan dari keluarga kaya raya yang tak pernah berkekurangan.

Kedua keadaan yang dialami anak-anak muda ini, memang akan menghasilkan tindakan berbeda soal memberi jika dikaitkan dengan materi. Yang hidupnya berkekurangan, pasti akan merasa berat jika harus menabur, memberi dalam bentuk uang, karena keadaan dirinya pun masih perlu ditolong. Yang hidupnya berkecukupan, mungkin tidak berat jika harus memberi dalam bentuk materi.


Bagaimana Firman Tuhan menjawab hal ini? Apakah yang harus memberi yang berkecukupan materi saja?
Apakah tidak masalah jika keuangan sedang sulit, maka kita tidak memberi?

Gembala Pembina kita menyampaikan apa yang Tuhan taruh dalam hatinya soal memberi. Di Minggu ketiga, kita telah membahas bersama bagaimana dalam pandemi COVID-19 ini, banyak orang kehilangan sukacita dan itu memang rencana Iblis untuk menghancurkan kita. Tetapi, Tuhan memberi kunci untuk mengembalikan sukacita, yaitu dengan cara memberi.

Coba perhatikan Fiman Tuhan dalam 2 Tawarikh 3 : 1, diceritakan bagaimana Salomo mendirikan bait Allah di Yerusalem, di Gunung Moria, di mana Tuhan menampakkan diri ke Daud di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus. Perlu kita ketahui bahwa Bait Allah Salomo merupakan perpaduan dari Tabernakel Musa & Tabernakel Daud (2 Tawarikh 8 : 12 - 14). Tabernakel Musa berbicara tentang hukum Allah, sedangkan Tabernakel Daud berbicara tentang doa, pujian dan penyembahan. Nah, kitapun adalah "bait Allah", sebagai bait Allah, kita harus taat pada firman Allah dan hidup dalam doa, pujian dan penyembahan. Bait Allah Salomo berada di Gunung Moria, di Yerusalem. Gunung Moria adalah tempat
di mana Daud diminta Tuhan membuat mezbah bagi-Nya, mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Apa yang terjdi setelahnya? Setelah melakukan itu, Tuhan mengabulkan doa Daud
untuk negerinya. Tulah penyakit sampar yang mengakibatkan 70.000 orang Israel mati, pun berhenti.

Dari penjelasan ini, kita dapat menangkap bahwa Tuhan rindu agar kita mempersembahkan korban kepada-Nya. Tak hanya dalam bentuk daya, waktu dan usaha teta pi juga dalam bentuk materi, terutama di tengah-tengah pandemi ini, agar apa? Agar doa kita dikabulkan-Nya. Tuhan tidak lihat seberapa jumlahnya, tapi Tuhan lihat kesungguhan, ketulusan kita ketika mau memberi. Baik memberikan persembahan, maupun memberi bantuan materi kepada sesame yang membutuhkan. Berkat yang kita terima, sejatinya bukan sepenuhnya milik kita, ada yang haru kita kembalikan pada Tuhan, ada yang harus kita tabur untuk orang lain. Yuk kita belajar memberi dengan sukacita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *