top

Renungan Harian, Jumat 7 April 2017
"Menghadapi Raksasa Dengan Kelemahlembutan" Amsal 15:1

Saat saya kecil, seorang pria yang tidak ramah jadi tetangga kami. Dia tinggi, berotot, dada bidang, dan sering berteriak kepada isteri dan anak-anaknya seperti gunung yang sering meletus. Ketika dia memotong rumput dia selalu cemberut, bahkan saat kami tersenyum kepadanya. Para pria di komunitas itu menghindari berhubungan langsung dengannya, hanya mengangguk kepadanya saat lewat, tetapi mendapat sedikit respon.
Suatu hari anak-anak di lingkungan itu main softball di halaman rumah kami, sebuah pukulan keras membawa bola itu kehalaman pria itu dan mengenai kaca jendela dapurnya. Kami semua terdiam di tempat, ketakutan terhadap kemungkinan apa yang akan terjadi. Mulut saya kering dan tangan saya memegang pemukul bola erat-erat saat pria itu keluar langsung mengarah ke saya.
Tiba-tiba ayah saya keluar dari rumah kami, dia beratnya hanya sekitar 58 kilogram. Saya hampir pingsan karena ayah saya bukanlah lawan bagi pria itu. Suara pria itu menggelegar bertanya siapa telah memukul bola itu. Ayah menaruh tangannya di bahu saya dan dengan lembut berkata, "Putrikulah yang melakukannya dan kami sungguh minta maaf. Saya akan mengganti jendelamu yang pecah."
Saya menahan nafas sementara anak-anak lain bergerombol di belakang kami. Muka marah pria itu berubah dan dia menatap ayah saya. Dia menerima permintaan maaf ayah dan berkata kepadanya tidak perlu mengganti kaca jendelanya. Mereka berjabat tangan dan saya melihat pria besar itu tersenyum. Saat dia kembali ke rumahnya, raksasa itu menjadi semakin kecil di depan saya, sedangkan ayah saya yang berdiri di samping saya semakin besar di mata saya.
Saya ingat kepada nasihat Salomo di Amsal 15:1. Naluri alamiah kita ingin berkelahi dengan musuh kita sesuai dengan apa yang dia lakukan - marah dibalas marah, benci dibalas benci. Tetapi Solomo dan Yesus menasihati kita sebaliknya. Yesus berkata dalam Lukas 6:27-28. Sekalipun tetangga saya bukanlah musuh saya, tetapi dia bisa jadi menjadi demikian jika ayah saya menghadapinya dengan kemarahan. Tetapi dia tidak. Dia mengijinkan Roh Tuhan memimpinnya untuk memberikan jawaban yang lembut dan mengubah orang yang berpotensi menjadi musuh menjadi teman baik.
Sejak saat itu saya selalu berdoa agar diberikan hikmat seperti kedua ayah saya: Bapa saya di Sorga yang merupakan sumber segala hikmat dan ayah jasmani saya yang memberikan teladan yang sangat baik.
(Source : www. jawaban.com)
Selamat beraktifitas, tetap semangat. Tuhan Yesus Memberkati

Post a Comment

Where to find us

Chapel

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur elit sed do eiusmod tempor incididunt.
a
[contact-form-7 404 "Not Found"]