Saat Dilanda Badai, Kuatkanlah Imanmu

Matius 8: 26-28

Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?" Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 99; Lukas 11; Yosua 9-10

Satu hal yang sering aku lupakan waktu membaca Alkitab adalah jeda pasal dan bagian aslinya gak kelihatan. 

Umumnya, banyak orang yang beranggapan kalau jeda dalam Alkitab sebagai ‘titik berhenti’ untuk membaca dan bagian selanjutnya sering kali dianggap sebagai cerita baru. 

Tapi sebenarnya banyak pengetahuan yang bisa digali sebelum dan sesudah jeda ini dan menerapkannya sesuai dengan konteks yang tepat.

Salah satu contohnya ditemukan dalam Matius 8: 23-27 diberi judul dalam terjemahan ‘Angin Ribut Diredakan’. Ayat 28 mengambil cerita ‘baru’ dengan judul ‘Dua Orang yang Kerasukan Disembuhkan’. Waktu kita membaca ayat-ayat ini sebagai kisah yang berkelanjutan, kita mungkin akan menyadari sesuatu yang penting.

Waktu Yesus naik ke perahu bersama para murid, dia berinteraksi dengan banyak orang. Waktu itu pun terjadi banyak mujizat kesembuhan, bahkan seorang juru tulis yang ragu-ragu pun terdorong ingin mengikut Kristus.

Yesus merasa kelelahan. Karena itu setelah naik ke perahu, dia langsung tertidur.

Di Matius 8, kata tepat yang digunakan untuk ‘angin ribut’ adalah badai. Jadi Matius menggambarkan keadaan itu dengan badai yang jauh melampaui hujan lebat musim panas.

Matius memakai kata-kata ‘badai yang dahsyat’ bukan sebagai gambaran yang sebenarnya. Karena istilah sebenarnya dalam terjemahan Yunaninya disebut dengan megas seismos. Harafiahnya kata megas artinya sangat hebat, tinggi, besar, nyaring, perkasa dan kuat. Sedangkan seismos artinya gempa bumi. 

Jadi waktu Yesus naik ke perahu, itu bukanlah waktu yang tepat. Tapi Yesus mulai bertanya kepada murid-murid, kenapa mereka takut. Lalu Dia segera menghardik badai itu dan seketika danau pun tenang. Yesus sendiri menilai murid-murid kurang iman.

Waktu membaca bagian perikop ini, banyak orang yang mulai berhenti membaca dan meyakini kalau kisah itu terjadi dalam sehari. Tapi, cobalah membaca satu ayat lanjutannya dan kamu akan menyadari kalau Yesus dan murid-murid sedang dalam perjalanan ke Gadara (ayat 28).

Di sana mereka bertemu dengan dua orang yang kerasukan. Keduanya sangat bengis dan berbahaya. Dan setelah ditelusuri rupanya mereka dirasuki oleh banyak sekali roh legion. 

Tahukah kamu kalau sebenarnya badai yang dahsyat yang sebelumnya menghadang mereka berkaitan kuat dengan kondisi rohani yang mereka temui di Gadara.

Kita bisa lihat bagaimana dua cerita dan titik henti yang memisahkan kisah ini sebenarnya saling terhubung dan jadi refleksi tentang peperangan rohani yang akan mereka hadapi di depan. 

Baca Juga: Berdirilah Teguh Walau Di Tengan Badai

Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai orang-orang yang kurang percaya. Karena Dia tahu apa yang akan mereka hadapi. Dia tahu kenapa badai itu datang dan Dia juga tahu tak satupun yang perlu dikuatirkan.

Sama halnya seperti Dia menenangkan badai di danau, Dia juga menenangkan badai di dalam diri kedua orang yang kerasukan itu. Dia bahkan tidak perlu mengusir setan-setan itu keluar. Karena kehadiran-Nya cukup membuat mereka ketakutan. Mereka tahu kalau mereka tidak punya kuasa saat berhadapan dengan Putra Allah. 

Yesus mengabulkan permintaan roh-roh jahat itu dan melemparkan mereka masuk ke dalam babi-babi itu. Setelah roh jahat itu meninggalkan kedua orang tersebut, mereka pun kembali waras. Mereka sembuh dan memuliakan Tuhan lewat kesaksian mereka.

Sama seperti murid-murid, kita perlu belajar peka dengan badai dahsyat yang kita alami. Kemungkinan ada sesuatu yang bisa kita pahami, atau mungkin kita perlu mempertajam iman kita dan menyaksikan mujizat terjadi di depan. Kita perlu iman saat menghadapi badai maupun setelah badai. Karena di sanalah kita bisa menemukan ada potensi terbesar untuk bangkit, menang dan mengalami pemulihan.

Sekalipun menakutkan, akan selalu ada sisi lain di balik badai yang terjadi dalam hidup kita. Jadi jangan takut. Dia sendiri yang mengendalikan angin dan ombak dan berkuasa untuk mengusir sroh jahat. Dia sendiri mati untuk kita, tahu betul berapa jumlah helai rambut kita. Jadi milikilah iman di dalam Dia!

source: jawaban.com

No Comments Yet.

Leave a comment