“Menakar Kebijaksanaan” Amsal 1: 7

Renungan Harian, Kamis 4 Agustus 2016
"Menakar Kebijaksanaan" Amsal 1: 7

Kata Ibrani dari ‘takut’ di dalam ayat di atas adalah sebagai bentuk rasa ‘hormat dan kekaguman’. Seseorang yang mencari hikmat merelakan diri sujud di hadapan Allah karena kekaguman dan hormat atas Dia. Ayat di atas menggambarkan tentang ketergantungan kita secara total kepada Allah.
Saya teringat akan hubungan saya dengan ayah biologis saya. Ayah saya adalah seorang pria yang luar biasa dan yang sangat saya cintai dengan sepenuh hati dan penuh penghormatan. Dia adalah contoh sempurna dari seorang ayah yang baik. Sangat dihormati di komunitas kami, dia adalah pribadi yang adil dan bijaksana. Namun saya tahu batas-batas yang harus saya ambil bersama dengan dia. Saya juga bisa merasa takut terhadapnya, bukan rasa takut yang timbul dari pengalaman buruk, melainkan rasa takut yang menunjukkan kekaguman dan penghormatan terhadapnya. Saya mengasihi dia sepenuhnya dan ingin menyenangkan hatinya. Ini adalah ketakutan yang Alkitab bicarakan.
Budaya kita tidak mengajarkan srasa takut dan hormat yang seperti ini karena itu banyak orang yang tidak memahami konsep ini. Menghormati berarti bahwa saya percaya orang lain dan menghargai mereka, atau memuji mereka. Menghormati juga berarti bersedia tunduk kepada orang lain. Mengormati orang lain akan melahirkan keinginan untuk menyenangkan orang lain dan bahkan meniru kepribadian mereka.
Amsal 1 ayat 7 berkata, orang bodoh tidak merasa perlu menghormati Allah karena mereka merasa bijaksana dan berpengetahuan. Faktanya, kebodohan memilih untuk bertentangan dengan kebijaksanaan.
Saya suka kutipan dari Walter Lippman ini: “Dibutuhkan hikmat untuk memahami kebijaksanaan: musik tak berarti apa-apa jika pendengarnya tuli.” Kebodohan itu seperti pendengar yang tuli. Dia tidak emiliki cara untuk mendapatkan kebijaksanaan karena ia tidak mengerti atau menghormati kebijaksanaan, yang adalah Tuhan. Kebodohan menolak penundukan diri kepada Allah karena dia tidak percaya Allah.
Saat saya takut akan Tuhan dan berjalan di depan-Nya dengan penuh hormat, Dia membuat saya menjadi lebih bijaksana dari yang saya tahu. Sungguh, saya kadang-kadang terpana dengan hikmat yang diberikan-Nya bagi saya. Saya tidak ingin menjadi bodoh! Bagaimana dengan Anda? Mari belajar menghargai, percaya dan tunduk kepada Allah untuk bisa menerima takaran kebijaksanaan dari-Nya. – Leah Adams
Orang yang takut dan hormat akan Tuhan dilimpahkan hikmat dan kebijaksanaan ilahi yang melampaui dari hikmat manusia. (Source : www.jawaban.com)
Selamat beraktifitas, tetap semangat. Tuhan Yesus Memberkati

No Comments Yet.

Leave a comment