“Melihat Dengan Mata Rohani” Ibrani 11:1

Renungan Harian, Jumat 5 Agustus 2016
"Melihat Dengan Mata Rohani" Ibrani 11:1
Beberapa tahun lalu, kami pindah ke Kansas karena suami saya dapat pekerjaan disana. Sebelum itu kami tinggal di timur Atlanta di dekat hutan lebat. Anak-anak kami lahir dan dibesarkan di sebuah kabin dari kayu cedar dengan teras depan yang luas. Tempat itu adalah "sorga kecil" kami - area kecil yang dikelilingi tetangga, beberapa di subdivisi, yang lainnya di tanah mereka sendiri yang luas.
Sering kali di siang hari, saya berjalan melintasi padang rumput milik tetangga untuk mengunjungi sahabat saya, Barbara dan anak-anak lakinya. Dengan pindah ke Kansas itu, kami ingin mempertahankan gaya hidup yang sama - rumah di desa dengan banyak tetangga, namun memiliki ruang yang luas untuk membesarkan anak-anak kami. Kami memutuskan untuk menjelajahi wilayah utara dari daerah metro.
Saya ingat betapa saya kecewa saat berkendara sepanjang jalan. Ini tidak seperti Atlanta yang wilayahnya hijau. Di depan mata saya terbentang daerah pertanian yang luas dan datar, rumah hanya ada beberapa dan berjauhan. Saya pikir, "Jika saya memilih ini, akan seperti apa kehidupan? Dimana saya akan menemukan teman DISINI?" Suami saya harus berkendara jauh ke kota dan hampir sebagian hari saya akan saya jalani tanpanya. Tetapi, dia sepertinya sudah yakin untuk mengintensifkan pengalaman pedesaan kami. Saya harus bekerja keras untuk tetap antusias.
Kami akhirnya memilih tinggal di area ini dan pindah untuk sementara di daerah subdivisi dekat dengan sebuah kota kecil. Namun suami saya masih belum puas. Dia masih ingin "lebih jauh." Dia terus mencari iklan tentang tanah di jual hingga ia akhirnya menemukan sebuah kesepakatan bagus, tanah yang cukup luas dengan harga yang wajar. Sekarang, saya juga cinta dengan pedesaan. Saya hanya takut dengan isolasi dan kesendirian.
Saya ingat pertama kali kami tiba di tempat itu. "Ini kacau!" adalah pikiran pertama saya. Disana ada rumah bawah tanah - sebuah bentuk rumah yang primitif, hanya saja ini seperti tempat perlindungan/bungker yang kuat. Ada juga sebuah gudang yang hampir runtuh. Saya hanya membayangkan berapa banyak laba-laba yang ada di sana melakukan pertemuan! Tumpukan sampah, pagar yang rusak dan lilitan kawat duri ada dimana-mana.
Tetapi suami saya melihat sesuatu jauh dari apa yang terlihat. Ketika gudang tua itu diruntuhkan menjadi sebuah kolam, bungker itu kubur, pagar duri dibersihkan, kami kemudian membangun pondasi. Hingga harinya tiba ketika kami duduk di depan teras rumah bercat putih, dengan dihiasi bungar spirea, iris dan banyak lagi lainnya. Kami memiliki sebuah rumah yang indah dengan anak-anak kecil dari kota dan gereja dan bahkan dari dekat jalan menjadi teman baru.
Saya kemudian berpikir tentang respon saya pertama kali dan respon suami saya saat melihat tanah itu menggambarkan bagaimana kita bereaksi terhadap pengalaman kehidupan ini. Bagaimana kami jauh berbeda melihat keadaan yang sama, hal tersebut dipengaruhi oleh "mata" yang kami gunakan. Ketika kita melihat sesuatu apa adanya seperti yang didepan mata kita, maka kita tidak menemukan apapun yang menarik, kita melihat halangan, atau lebih banyak kesedihan dan berpikir, "Tidak ada yang baik bisa muncul dari hal ini. Tidak akan ada yang berubah. Tidak ada harapan lagi. Hal ini tidak akan bisa menjadi lebih baik." Ketika kita melihat dengan mata 'jasmani' kita, hati kita akan menjadi berat. Tetapi apa yang terjadi ketika melihat keadaan yang sama namun dengan mata 'rohani'? Saya seringkali merenungkan kitab Ibrani dan bagaimana penulisnya memberikan gambaran yang indah tentang Abraham :
Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. Ibrani 11:11-12.
"Sama saja telah mati! Dapatkan Anda melihat Abraham yang telah tua memandangi tangannya yang kulitnya telah berkerut dan kemudian melihat Sarah, dan menemukan hal yang sama, ia kemudian menggaruk kepalanya, namun menyatakan, dengan segenap hatinya, "Dia yang memberikan janji itu setia. Aku memutuskan untuk percaya!"
Hari ini jika Anda merasa ragu, melihat keadaan Anda yang tampak seperti "rumah tua dan gudang yang hampir runtuh," semoga Tuhan menolong Anda untuk melihat apa yang bisa dibangun di atas reruntuhan itu. Pilihlah untuk percaya kepada janji-Nya yang telah Dia siapkan, Yeremia 29:11. (Source : www.jawaban.com)
Selamat beraktifitas, tetap semangat. Tuhan Yesus Memberkati

No Comments Yet.

Leave a comment