“Percaya Pada Hati-Nya” Mazmur 34:18

Renungan Harian, Rabu 10 Agustus 2016
"Percaya Pada Hati-Nya" Mazmur 34:18

Menghadapi kematian bukanlah hal mudah bagi kita. Baik itu kematian yang tiba-tiba terjadi dan tak terduga ataupun sebagai puncak dari sakit berkepanjangan, kita kesulitan untuk melepaskan orang-orang yang kita kasihi. Pada tahun 1986, empat kematian tragis menguji iman saya dan menjauhkan saya dari Tuhan.
Sepupu saya Ray, seorang yang periang dan penyayang di usia 20an tahun. Dia dan istrinya Debbie, memiliki seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun. Ray pulang ke rumah dari kerja pada pagi buta. Saat menuruni bukit, sistem listrik di mobilnya mati. Sebuah truk besar ada di belakangnyanya, dan dia tidak melihat mobil Ray hingga semuanya terlambat. Ray tewas seketika. Dia meninggalkan seorang isteri, bayi dan tidak memiliki asuransi jiwa.
Andy Boggs, usia 21 tahun, sangat bertalenta di bidang musik dan komposer yang sedang dirawat di Mayo Clinic karena menderita kanker otak yang langka. Andy sepertinya merespon dengan baik terhadap perawatan yang diberikan, dan meskipun tingkat kelangsungan penderita kanker rendah, para dokter sangat berharap. Saya mengundang Andy sebagai tamu dalam acara radio saya dan produser saya dan saya merasa langsung dekat karena keberanian anak muda ini dan keluarganya.
Awal tahun itu, dia pergi ke Mayo untuk cek rutin. Para dokter terkejut karena menemukan bahwa kanker telah menyebar seperti api. Orangtuanya diberitahu untuk membawanya pulang dan membuatnya senyaman mungkin. Andy Boggs meninggal dengan bakat musik hebat yang ada di dalam dirinya.
Ron Jones memiliki salon kecantikan di Chicago dan adalah teman dekat saya. Kami bertemu di tahun 1972 dia menolong saya dalam setiap tahap Miss American Pageant. Kami tetap menjaga hubungan selama bertahun-tahun. Ron adalah pria yang baik hati yang memberi dengan murah hati kepada orang lain tanpa peduli berapa besarnya. Saat dia diagnosa dengan tumor otak, sya tertegun dan ketakutan. Saya melihat bagaimana tumor menghancurkan hidupnya sedikit demi sedikit. Itu adalah cara mati yang sangat buruk dan pelan-pelan. Keluarga Ron membantunya menghadapi itu dengan penuh martabat.
Linda Jorerres, ibu dari empat anak di usia 30an tahun, dan suaminya Tom adalah teman kami selama beberapa tahun. Dia diagnosa dengan kanker yang karena kesalahan medis telah menyebar ke hatinya. Dia menjalani kemoterapi, radiasi, dan rasa sakit yang tak terbayangkan di saat yang sama mengantarkan anaknya yang paling kecil ke sekolah taman kanak-kanak untuk pertama kalinya.
Kondisinya tidak baik, dan saya menghubungi suaminya untuk bertanya apakah dia mau dikunjungi. Saya merasa sangat terbeban untuk berdoa untuknya. Suaminya membalas bahwa hari Rabu saya bisa datang. Pada Rabu pagi suami saya menghubungi saya dari kantornya dan berkata, "Saya pikir kamu sebaiknya duduk. Lind Joerres meninggal pagi ini." Saya menutup telephone itu tanpa bicara sepatah katapun.
Saya merasa sangat marah pada Tuhan. Saya tidak bisa berdoa. Saya tidak bisa membaca Alkitab. Saya tidak ingin jawaban menghibur atau yang mudah dari Alkitab. Rasa sakit yang tidak terungkapkan membakar saya. Hingga suatu hari di mobil saya, saya tidak lagi bisa menghentikan air mata saya atau pertanyaan saya, "Mengapa Tuhan?Mengapa?Mengapa?" Sendirian di mobil, dalam keheningan hati saya, datang sebuah respon yang jelas yang nyaris bisa didengar telinga. Aku berdaulat. Diam.
Saya tahu bahwa Tuhan yang bicara. Entah Dia Tuhan atau bukan. Jika Dia Tuhan, saya perlu percaya pada-Nya dalam segala sesuatunya - dan bukan hanya dalam hal yang bisa saya mengerti atau setujui. Jika saya bersedia untuk melepaskan rasa sakit dan rasa marah saya dan menyerahkan semuanya kepada Dia, sebagai gantianya Dia akan memberikan saya kedamaian dan penghiburan.
Melepaskan, menyerahkan, merelakan - memberikan semuanya kepada Dia. Itu adalah tantangan selama hari demi hari, waktu demi waktu. Hal tersebut tidak pernah mudah, tetapi kita bisa melakukannya, hal itu selalu menuntun kita langsung ke pada hati Tuhan. Potongan syair ini menjelaskan semuanya :
Tuhan terlalu bijasana untuk melakukan kekeliruan.
Tuhan terlalu baik untuk berbuat buruk.
Jadi ketika Anda tidak mengerti,
Ketika Anda tidak bisa melihat rencana-Nya,
Ketika Anda tidak bisa melihat karya tangan-Nya,
Percayalah pada hati-Nya.
Tuhan, dalam gelap dan tempat yang tidak bisa dijelaskan, ajari saya untuk percaya pada hati-Mu. Terima kasih karena Engkau mengasihiku dan berada didekatku bahkan ketika aku kesal dan marah. Ajar aku seni untuk tetap tenang dan penuhi aku dengan pengetahuan akan kedaulan-Mu. (Source : www. jawaban.com)
Selamat beraktifitas, tetap semangat. Tuhan Yesus Memberkati

No Comments Yet.

Leave a comment