Pasangan Hidup Melengkapimu atau Menjadi Berhala?

Mazmur 107: 9

"Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan."

Saya memiliki dua orang anak remaja laki-laki. Kami tidak memiliki banyak makanan. Jika saya menyediakan satu kantong keripik tortilla dan satu kantong keripik salsa, keduanya akan habis dimakan. Sama halnya jika saya membeli masing-masing lima kantong keripik.

Saya menemukan analogi pernikahan melalui lemari es yang selalu saya biarkan kosong.

Setelah menikah selama kurang lebih enam bulan, saya menyadari bahwa suami saya tidak bisa mengisi kekosongan saya. Tidak peduli berapa banyak waktu yang kami habiskan untuk bersama, saya selalu merasa kurang.

Dia tidak diciptakan untuk memenuhi harapan saya, atau melengkapi saya. Pernikahan tidak dirancang untuk memenuhi beban emosional seseorang.

Selama ribuan tahun, wanita dan pria telah bekerja sama untuk saling tolong menolong.

Bahkan, Tuhan satu-satunya pribadi yang bergaul dengan Adam menyatakan bahwa tidak baik bagi manusia untuk sendirian saja. Kita membutuhkan komunitas, dan dalam konteks ini adalah pasangan hidup dalam pernikahan.

Tapi, Tuhan menciptakan kita untuk diri-Nya. Pasangan kita tidak akan pernah cukup.

Penulis dan pendeta Ray Ortlund menjelaskan bahwa pernikahan bisa menjadi pernikahan sejati atau penyembahan berhala:

Perbedaan antara orang Kristen dan penyembah berhala adalah memberi versus menuntutmenikmati versus menggunakan, berbagi versus memanipulasi. Inilah perbedaan antara rasa syukur yang rendah hati melawan keegoisan.

Ketika saya berharap pasangan saya untuk mendukung dan memenuhi ‘rasa lapar’ saya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan, pasangan saya menjadi sesuatu yang saya puja atau berhala. Semua jenis berhala membuat kita menginginkan, bergantung, dan menyiksa ketika harapan kita tidak terwujud.

Mazmur 107: 9 mengatakan, "Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan."

Harapan apa yang mungkin kamu berikan pada pasanganmu? Bagaimana kamu bisa melepaskan harapan yang kamu miliki atasnya dan menemukan kepenuhan yang sehat dalam Tuhan?

source: jawaban.com

No Comments Yet.

Leave a comment