top

“Haruskah Tinggal atau Pergi?” Kejadian 26:1-3

Renungan Harian, Selasa 17 Januari 2017
"Haruskah Tinggal atau Pergi?" Kejadian 26:1-3
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 17; Mazmur 17; Kejadian 33-34

"Mengapa kamu tidak langsung berhenti saja?" ujar rekan pendoa di gereja kepada saya saat acara doa mingguan. Selama beberapa minggu, saya berbagi dan berdoa dalam situasi kerja keras saya. Beberapa insiden frustasi yang melibatkan atasan saya menciptakan lingkungan yang menindas bagi tim kami. Dua rekan kerja menyuarakan keluhan terhadap dia, menunjukkan semangat kerja yang menurun dan putus asa.
Beberapa anggota tim memikirkan untuk mengundurkan diri dari organisasi kami atau menginginkan untuk dimutasi ke departemen lain. Ketidakstabilan dan kekacauan mengakibatkan serangkaian komentar dan tuduhan tidak berdasar. Berapa lama saya bisa bertahan? Saat wwaktu pribadi saya dengan Tuhan dan doa mingguan dengan rekan doa memberikan kenyamanan dan penangguhan, godaan untuk keluar dari departemen saya yang disfungsi sangatlah terasa.
Ada satu masalah. Allah telah memanggil saya untuk berada di posisi saya di kantor tersebut dari tiga tahun sebelumnya, dan Dia tidak melepaskan saya.
Ketika Ishak menghadapi kelaparan yang begitu hebat, saya yakin dia sangat menderita, lapar, dan takut. Hal itu mendorongnya secara daging untuk menjauh dari keadaan yang menindas dan pergi ke Mesir di mana makanan dan persediaan yang berlimpah. Ayahnya, Abraham sudah ada selama masa-masa kelaparan sebelumnya tersebut. (Kejadian 2:10)
Namun, Allah tidak melepaskan Ishak dan menyuruhnya untuk tinggal. Ia mengatakan kepadanya untuk tinggal di Gerar sebagai orang asing. Allah berjanji Ia akan menyertai dan memberkatinya. Dia mengingatkan Ishak akan janji-Nya: Dia akan memberikan semua tanah kepadanya dan keturunannya.
Ada saat-saat Allah memberitahu kita untuk menjauh dari situasi yang menantang, tetapi di satu sisi, banyak kali juga Ia memberitahu kita untuk tinggal di mana kita berada dalam situasi yang menantang. Di sinilah kita penting untuk mencari kehendak Allah.
Bagi saya pribadi sangat jelas bahwa Allah tidak ingin saya pergi ke mana pun. Saya tahu karena saya bertanya, bahkan memohon, selama beberapa kali. Menanggapi permohonan saya, Ia berbicara kepada saya melalui firmanNya dalam Yesaya, Yesaya 43:1b-2
Saya bersyukur saya mendengarkan Tuhan. Dengan lembut, Ia menunjukkan kepada saya bahwa sikap negatif dan kebencian saya memberikan kontribusi akan situasi frustasi yang saya alami. Ia benar, dan saya langsung cepat-cepat untuk bertobat! Saya mulai memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya untuk apa yang saya alami. Saya menyingkirkan sikap buruk dan penghakiman saya.
Segalanya berubah, dan dalam waktu enam bulan departemen di kantor kami berubah. Mengizinkan Allah untuk segera mengubah diri saya mambawa pengaruh kepada cara saya menanggapi apa yang saya hadapi di tempat kerja. Hal tersebut menjadi semakin mudah ketika saya menyerahkan situasi saya kepada-Nya dan mempersilahkan-Nya untuk mengatasi setiap konflik. Percaya atau tidak, Ia sungguh-sungguh melakukannya di dalam kehidupan saya.
Selama masa ini, Ia mengingatkan saya akan ayat lain yang terdapat di dalam Alkitab, Hagai 2:19
Ia telah memberkati saya. Ia akan memberkati kamu juga. Carilah Ia dan Percayalah kepada-Nya.
Dalam segala hal yang kamu kerjakan, bertanyalah dahulu kepada Allah sebab jawaban yang akan Ia berikan pasti tepat untukmu.
(Source : www. jawaban.com)
Selamat beraktifitas, tetap semangat. Tuhan Yesus Memberkati

Post a Comment

Where to find us

Chapel

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur elit sed do eiusmod tempor incididunt.
a
[contact-form-7 404 "Not Found"]